.: SMAN 1 Kedungwuni Pekalongan .:. Official Website :.

"Bangga Berbahasa Indonesia" (Cerpen Karya Sendi Ayu Subekti)

Seperti biasa aku dengan semangat berangkat sekolah. Karena jam menunjukkan angka 6, kelas masih sepi. “Ah, mungkin hari ini aku darang terlalu pagi”. Merasa bosan aku pun berniat membaca novel sambil menunggu teman yang lain datang. Tak sampai 10 menit, tiba-tiba ada seruan, “Morning...!”Ah, tanpa menoleh pun aku sudah tau siapa yang datang.

“Hei Rena! Kenapa kau tidak membalas sapaanku?” Protes Evelyn.

Aku hanya mendengus pelan.

 “Pagi juga, Evelyn” Tahu kalo Evelyn mungkin akan marah jadi akhirnya aku membalas sapaannya.

   “Seharusnya kau membalas dengan mengucapkan morning juga, Ren. Bukannya pagi” Ujar Evelyn sambil duduk di bangkunya.

   “Inikan di Indonesia, Lyn. Disini kita sewajarnya menggunakan bahasa Indonesia” balasku. Tapi seperti biasa, Evelyn selalu tidak mau kalah soal berdebat.

   “Oh my god, Renaku sayang. . .”, Aku melihat Evelyn berbalik menghadapku.

   “Kita hidup di Jakarta, semua serba modern. Dan bahasa inggris membuat kita menjadi gaul, Ren” Lanjutnya.

   Jujur saja, perkataan Evelyn memang ada benarnya. Setiap kali kita berbicara dengan bahasa asing, kita pasti merasa keren. Dengan begitu tanpa sadar kita akan bangga dan secara perlahan mulai melupakan bahasa kita sendiri yaitu Bahasa Indonesia.

 

   “Justru karena kita tinggal di Jakarta kita harus menggunakan bahasa indonesia apalagi Jakarta adalah ibu kota negara” Aku membalas perkataan Evelyn dengan tegas. “Maaf saja ya, Evelyn. Untuk debat soal ini aku tiak akan mau kalah”, “Terserah kau saja lah”, Evelyn berbalik membelakangiku, pertanda bahwa dia marah.

            Waktu berjalan begitu cepat, aku pun memasukkan novel yang tadi kubaca kedalam laci. Kelas sudah mulai ramai, terbukti dengan ocehan Tomo dan Asep yang selalu saja beradu mulut. Mereka selalu saja berbicara hal yang tidak penting yang pada akhirnya berujung dengan perdebatan. Seperti saat ini, mereka berdebat tentang Tomo yang bilang bahwa lelaki Suku Jawa adalah lelaki paling tampan dan terpintar di Indonesia. Kemudian disambung dengan Asep yang tidak terima karena menurutnya lelaki Sunda lah yang tampan dan pintar. Sungguh percakapan yang aneh. Tapi percakapan aneh dan tidak penting itu terus berlanjut. Matomi yang dari tadi diam mendengarkan, ikut bergabung. Dia berpendapat bahwa suku papualah yang paling pintar.

   “Mungkin kulit yang lebih cerah dari pada suku ku, ku akui soal penampilan kalian lebih unggul. Tapi soal kepintaran aku tidak mau kalah”, Ujar Matomi. Omongan Matomi juga tak bisa diremehkan, karena ia termasuk siswa diperingkat 10 besar. Dan bisa kalian tebak sendiri, Matomi memang berasal dari pulau paling timur di Indonesia, yaitu Papua.

   Perdebatan makin sengit, mereka bahkan mulai berbicara dengan bahasa masing-masing tanpa sadar. Karena itu kelas makin ramai dan ricuh. Evelyn bahkan sudah menutup telinganya dengan kedua tangan karena merasa terganggu.

   “Hello. . . bisakah kalian semua berhenti berbicara? Berisik sekali!” Tapi omongan Evelyn tidak mendapat respon, mereka hanya menganggap angin lalu.

Aku yang melihat hal tersebut hanya tersenyum. Bukannya terganggu, aku malah suka saat mereka berdebat sambil sesekali mengeluarkan logat daerahnya masing-masing. Itu terlihat unik, menggambarkan keanekaragam suku bangsa serta bahasa yang ada di Indonesia. Sekolah kami memang termasuk sekolah elit di Jakarta. Maka dari itu, banyak siswa dari berbagai daerah di Indonesia yang bersekolah di sekolah ini. Seperti Jawa, Sunda, Papua dan satu lagi siswa dari Batak yang tidak ikut berdebat. Dia adalah Bagas, mungkin kalo Bagas ikut berdebat kelas akan semakin ramai dengan suara kerasnya. Sayangnya saat ini dia malah tertidur pulas di mejanya tanpa terlihat terganggu dengan suasana sekitar. Bagas memiliki suara yang keras khas suku Batak. Bahkan Aisyah, teman sebangku ku pernah menangis karena mengira Bagas sedang memarahinya. Padahal Bagas hanya sedang berbicara biasa. Merasa bahwa perdebatan Tomo, Asep dan Matomi tidak akan berujung, aku pun berniat menghentikannya.

   “Sudah-sudah, kalian tidak perlu berdebat seperti itu. Semua lelaki di Indonesia itu tampan dan pintar dengan ciri khas dan bakat masing-masing”, Aku berkata sambil menepuk pundak mereka, agar suasana lebih tenang.

   “Tapi, Ren. Kau bisa lihat sendiri kan. . . .” omongan Tomo berhenti sejenak, ia menunjuk Asep dan Matomi secara bergantian. “Diantara mereka berdua, akulah yang paling tampan” Ujar Tomo dengan percaya diri. Aku bisa melihat reaksi Asep yang sepertinya akan membantah omongan Tomo. Aku buru-buru mencegahnya, “Tidak, Tomo. Semuanya tampan oke? Selesai sudah masalahnya. Lebih baik kalian bubar dan duduk di bangku masing-masing karena bel masuk sudah berbunyi”. Akhirnya mereka menurut.

            “Rena sama Evelyn dipanggil ke ruang guru, tuh.” Kata Tomo.

Aku melirik ke Evelyn tapi ia malah mendengus, seperti dia masih marah kepadaku.

   “Disuruh ngapain, Tom?” Tanyaku bingung.

   “Tidak tahu, mungkin disuruh ikut lomba kali. Tadi aku juga disuruh ikut lomba menggambar.” Jawab Tomo. Aku mengangguk.

            Setelah keluar dari ruang aku menghampiri Evelyn yang tadi keluar terlebih dahulu,

   “kamu disuruh ikut lomba apa?” Tanyaku.

   “Lomba pidato, Kau sendiri ikut lomba apa?” Evelyn berbalik bertanya.

    Aku tidak heran Evelyn ikut lomba pidato, dia memang pandai berbicara dan memiliki kepercayaan diri yang baik untuk tampil di depan.

    “Aku ikut lomba puisi” Jawabku terhadap pertanyaan Evelyn tadi. Tapi ada satu hal yang aku takutkan tentang pidato Evelyn nanti. Aku ingin berbicara tentang hal tersebut, namun aku juga tidak mau Evelyn marah kalau aku memprotesnya. Ah, sudahlah terserah dia.

 ***

             Hari yang kutunggu datang, yaitu hari dimana lomba dilaksanakan. Aku sudah tidak sabar, 3 hari berlatih sekarang aku sudah siap untuk menghadapi lomba. Tetapi aku masih memikirkan Evelyn. Semoga dia bisa berpidato dengan baik. Oh iya, Tomo juga ikut lomba menggambar. Aku tidak menyangka Tomo memiliki bakat menggambar.

             Aku melangkah keluar ruangan lomba puisi dengan senyum lebar, itu semua karena aku mendapat juara dua lomba puisi. Tidak sia-sia latihan selama 3 hari lalu. Walaupun aku hanya mendapat juara dua, aku tidak merasa kecewa. Setidaknya aku sudah berusaha dan aku senang. Berharap berharap jika tahun depan aku ikut lomba lagi akan mendapatkan juara satu. Sampai di tengah lapangan, aku melihat banyak orang berkumpul disitu, dan ternyata di sana tempat lomba pidato dilaksanakan.

   “Ren, Rena!” mendengar ada yang memanggil aku menoleh, ternyata Tomo.

   “Gimana hasil lomba kamu, Tom?” Tanyaku sambil duduk disampingnya.

   “Pastinya juara satu!” jawab Tomo dengan menepuk dadanya, bangga. Akupun memberi selamat kepadanya, tak kusangka Tomo yang suka sekali menggambari buku tulisku ternyata memang berbakat.

  Pembicaraan kita terputus ketika nama Evelyn dipanggil ke atas panggung. Aku langsung gugup melihat Evelyn di depan sana. Dengan suara lantang Evelyn memulai memulai pidatonya. Tomo bahkan sudah meneriaki nama Evelyn untuk menyemangatinya. Tapi disini aku menundukkan kepala kecewa.

   “Seharusnya tidak begini Evelyn. . . .” Ucapku lirih.

 

Pidato Evelyn diakhiri dengan tepuk tangan meriah.

   “Wah, supah tadi Evelyn keren banget pidatonya.” Ujar Tomo sambil ikut bertepuk tangan, terpukau dengan penampilan Evelyn.

   “Bahasa Inggrisnya lancar sekali, aku sampai tidak mengerti apa yang dia bicarakan.” Lanjut Tomo.

Nah, itu dia masalahnya. Evelyn menggunakan bahasa inggris dalam pidatonya. Hal yang aku khawatirkan terjadi, lomba ini diadakan untuk memperingati hari besar Nasional, tetapi Evelyn malah menggunakan bahasa asing. Itu tidak mencerminkan isi pidatonya dengan apa yang ia terapkan. Evelyn berpidato tentang cinta tanah air, tetapi ia sendiri menggunakan bahasa asing. Bukankah itu membuatnya tidak mencintai tanah air? Tidak mencintai bahasa bangsa sendiri? Aku kira kali ini Evelyn tidak akan mendapat juara.

 

            Dan ternyata dugaanku benar, Evelyn tidak mendapatkan juara. Dia langsung menangis sambil memelukku. Aku dari tadi berusaha menenangkannya, tapi dia masih saja terus menangis.

   “Kenapa aku bisa kalah? Padahal aku sudah berlatih susah payah.” Keluh Evelyn sembari sesenggukkan.

Mungkin ini saatnya aku ngomong jujur ke Evelyn, “Pidato kamu emang bangus, Evelyn. Tapi kenapa kamu memakai bahasa inggris dan tidak memakai bahasa indonesia?”

  “Aku memakai bahasa inggris karena aku ingin juri terkesan dengan pidatoku” Jawab Evelyn. Aku pun membalas, “Bukan seperti itu caranya, Lyn. Tema dari lomba ini adalah Nasionalis. Jadi kamu seharusnya menggunakan bahasa indonesia saja, tunjukkan rasa Nasionalis kamu dengan bangga menggunakan bahasa Indonesia.”

Setelah mendengar perkataanku, Evelyn akhirnya sadar akan kesalahannya dan berjanji untuk kesempatan lain kali dia akan menggunakan bahasa Indonesia dalam pidatonya.

***

             Belajar bahasa asing memang penting, tetapi bangga akan bahasa bangsa sendiri adalah sebuah hal yang mengagumkan. Dengan mengenal bahasa lain, tidak sepatutnya kita menomor-dua-kan bahasa Indonesia. Tetapi sebaliknya, kita harus berupaya agar bahasa Indonesia bisa menjadi bahasa internasional. Dengan melestarikannya ke anak-cucu kita kelak. Seperti dalam sumpah pemuda yang berbunyi “Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, Bahasa Indonesia.”

  Bangga akan tanah air, bangga akan budaya dan bahasa adalah kewajiban kita semua sebagai rakyat Indonesia. Seperti kalimat ‘Hubbul watani minal iman.” Yang artinya mencintai tanah air adalah sebagian dari iman. Bangga berbahasa indonesia!

 

-Selesai-

 

 

Penulis  : Sendi Ayu Subekti (XI IPS 4, 2017/2018)

Editor    : Moh. Fahmi Latif, S. Kom